Peran Ilmu Pemetaan dalam Penentuan Hilal | Geo Survey Persada Indonesia

Peran Ilmu Pemetaan dalam Penentuan Hilal

admin GSPI
Mar 27, 2026 • 5 min read
Peran Ilmu Pemetaan dalam Penentuan Hilal

Penentuan hilal menjadi salah satu aspek penting dalam ilmu falak, khususnya untuk menetapkan awal bulan Hijriah seperti Ramadan dan Idulfitri. Selama ini, perhitungan hilal didasarkan pada konsep trigonometri segitiga bola, yang mengasumsikan bahwa bumi berbentuk bulat sempurna. Padahal, dalam praktiknya, teknologi seperti GNSS untuk penentuan posisi telah mengadopsi konsep bumi ellipsoid.  Perbedaan bentuk ini memang terlihat kecil, tetapi dalam perhitungan ilmiah seperti penentuan hilal, dampaknya bisa signifikan.

Bentuk Bumi dan Implikasi pada Perhitungan Hilal

Walaupun dalam hitungan hisab bumi disederhanakan sebagai bola, kenyataannya bumi adalah elipsoid yang sedikit pepat di kutub. Akibatnya, sistem koordinat lintang-bujur pada permukaan elipsoid (seperti yang diukur GPS) berbeda dengan koordinat geosentrik (permukaan bola). Dalam hisab hilal, ketinggian pengamat juga berpengaruh pada jarak horizon saat matahari terbenam. Marwadi (2018) menekankan bahwa lintang dari GPS adalah lintang geodetik dengan acuan elipsoid, sedangkan rumus trigonometri bola mengharuskan lintang geosentrik (asumsi bola). Demikian pula, tinggi tempat yang diukur GPS adalah ketinggian ellipsoid, bukan ketinggian orthometrik (di atas muka air laut) yang seharusnya dipakai dalam perhitungan astronomi hilal.

Singkatnya, data posisi dari GPS perlu disesuaikan agar sesuai dengan model bola yang digunakan di dalam hisab. Konversi ini memastikan bahwa perhitungan sudut kemunculan hilal lebih akurat. Marwadi (2018) menyimpulkan bahwa dengan melakukan konversi koordinat tersebut, “studi di wilayah fikih hisab rukyat menjadi bertambah validitasnya”. Hasil yang lebih valid menunjukkan bahwa ilmu pemetaan (geodesi) melengkapi ilmu falak dalam menentukan hilal.

Documentation 2
Gambar: Peran Ilmu Pemetaan dalam Penentuan Hilal (Bagian 2)

Konversi Koordinat Geodetik dalam Perhitungan Hilal

Untuk tujuan hisab hilal, diperlukan dua konversi utama pada data koordinat: lintang dan ketinggian. Secara ringkas:

  1. Lintang Geodetik → Lintang Geosentrik: GPS memberikan lintang geodetik (dengan acuan elipsoid). Agar sesuai asumsi bola dalam trigonometri falak, lintang geodetik dikonversi ke lintang geosentrik.
  2. Tinggi Ellipsoid → Tinggi Orthometrik: GPS juga memberikan tinggi ellipsoid (h). Untuk hisab hilal, yang relevan adalah tinggi orthometrik (H) di atas permukaan air laut rata-rata (geoid). Data tinggi ellipsoid perlu dikonversi dengan menggunakan nilai undulasi geoid (N): H = h - N. 

Nilai N diperoleh dari model geoid global (misalnya EGM2008) atau data geoid nasional. Penjelasan di atas juga dijelaskan dalam literatur geodesi: “Tinggi orthometrik suatu titik adalah tinggi titik tersebut di atas geoid, sedangkan tinggi ellipsoid adalah di atas ellipsoid referensi”. Geoid (didekati sebagai muka air laut rata-rata) digunakan sebagai datumnya. Karena ellipsoid dan geoid tidak berhimpit, selisihnya disebut undulasi geoid. Dengan mengetahui nilai N, kita dapat menghitung H sesuai kebutuhan hisab hilal.

Pendekatan geodesi menunjukkan bahwa ilmu pemetaan bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian penting dalam meningkatkan kualitas perhitungan hilal. Dengan akurasi data posisi dan ketinggian pengamat yang lebih baik, serta pemahaman terhadap perbedaan model bumi dan konversi data geodesi yang tepat, seluruh variabel dalam hisab dapat diperhitungkan secara lebih akurat. Hal ini tidak mengubah ketentuan syariat hilal, tetapi justru membantu menjalankannya pada posisi dan waktu yang setepat mungkin.

Sumber: Marwadi. 2018. Interkoneksi Fikih Hisab Rukyat dan Ilmu Geodesi. Fakultas Syariah, IAIN Purwokerto.

WhatsApp Logo