Default Title

Jangan Keliru! Ini Bedanya Foto Udara dan LiDAR

Jangan Keliru! Ini Bedanya Foto Udara dan LiDAR

Jangan Keliru! Ini Bedanya Foto Udara dan LiDAR

Dalam dunia survei dan pemetaan, teknologi terus berkembang untuk menjawab kebutuhan akan data spasial yang cepat, akurat, dan detail. Dua metode yang sering digunakan adalah foto udara dan LiDAR (Light Detection and Ranging). Keduanya sama-sama memanfaatkan wahana udara seperti drone atau pesawat, tetapi cara kerja dan hasil yang dihasilkan berbeda. Lalu, apa sebenarnya perbedaan keduanya, dan kapan sebaiknya kita memilih foto udara atau LiDAR?

  1. Definisi dan Prinsip Kerja

    LiDAR merupakan penginderaan jauh sensor aktif yang memanfaatkan pulsa laser untuk mengukur jarak ke permukaan bumi. Prinsip kerja LiDAR didasarkan pada konsep time of flight (waktu tempuh cahaya). Sensor LiDAR akan memancarkan pulsa laser ke permukaan bumi, kemudian dipantulkan dan diterima kembali oleh sensor. Dengan menghitung waktu tempuh pulsa kemudian mengalikan dengan kecepatan cahaya, sistem dapat menentukan jarak antara objek dengan sensor. Dari segi pencahayaan, LiDAR dapat bekerja baik dalam kondisi gelap maupun terang karena tidak dipengaruhi oleh cahaya matahari.

    foto udara (Fotogrametri) merupakan metode penginderaan jauh sensor pasif yang menggunakan kamera beresolusi tinggi untuk mengambil gambar permukaan bumi dari udara. Gambar - gambar hasil pemotretan digabungkan menggunakan perangkat lunak pengolah foto udara untuk menghasilkan ortofoto (foto tegak). Dalam pengukurannya, cahaya matahari sangat memengaruhi hasil foto udara. Oleh karena itu, kondisi ideal cahaya perlu dipertimbangkan (tidak terlalu terik, tidak terlalu redup).

  2. Karakteristik Data

    LiDAR menghasilkan data berupa sekumpulan titik - titik 3D yang sangat padat yang sering dikenal dengan point cloud. LiDAR unggul dalam akurasi vertikal (Z) dan mampu menghasilkan model topografi yang akurat. Kerapatan titik yang tinggi memungkinkan representasi objek yang sangat detail, termasuk perbedaan ketinggian yang kecil. LiDAR memiliki keunggulan dalam menembus vegetasi/celah kanopi pohon sehingga kaya informasi tentang bentuk, ketinggian, dan tekstur objek permukaan bumi.

    Survei fotogrametri menghasilkan data foto udara, yaitu data raster/grid (gambar 2D) yang memberikan gambaran visual permukaan bumi. Data foto udara memiliki akurasi lebih baik pada X dan Y (posisi).

  3. Output (Hasil) Pengolahan

    Point cloud LiDAR dapat diolah menjadi Digital Terrain Model (DTM), Digital Surface Model (DSM), kontur, hingga peta topografi. Foto udara menghasilkan citra visual dari permukaan bumi yang dapat diolah menjadi ortofoto, DSM, dan model 3D/Mesh sederhana.

  4. Manfaat/Aplikasi Utama

    LiDAR sangat bermanfaat di berbagai bidang, terutama kehutanan, arkeologi, pertambangan, hingga konstruksi. LiDAR mampu menghitung tinggi pohon, menemukan reruntuhan kuno di bawah kanopi, memantau kemajuan proyek, hingga mengukur volume galian dan timbunan. LiDAR juga dapat membantu menganalisis kesehatan tanaman.

    Foto udara beresolusi tinggi menghasilkan citra visual yang detail sehingga penting untuk pemetaan lahan, perencanaan tata ruang, manajemen proyek konstruksi, serta analisis lingkungan.

Image 1

Jadi, Mana yang Lebih Tepat?

LiDAR memiliki keunggulan dalam menembus vegetasi atau kanopi (multiple returns) sehingga memungkinkan pengukuran tanah di bawah vegetasi lebat. Selain itu, LiDAR unggul dalam ketelitian vertikal (Z) yang sangat baik sehingga menghasilkan data kontur yang akurat. LiDAR juga dapat digunakan pada siang maupun malam hari karena tidak bergantung pada cahaya matahari dan dapat terbang di kondisi berkabut. Meski demikian, LiDAR relatif lebih mahal dibandingkan survei foto udara/ fotogrametri karena sensor yang kompleks dan nilai data yang dihasilkan.

Sementara itu, fotogrametri/foto udara memiliki keunggulan dalam memberikan** gambaran visual** yang lebih mudah dipahami, akurasi posisi yang lebih baik, serta relatif murah dibandingkan LiDAR. Kekurangannya berada pada ketidak-mampuan dalam menembus vegetasi lebat dan bergantung pada kondisi pencahayaan di lapangan.

Kedua metode tersebut memiliki keunggulan dan kelebihannya masing - masing. Pemilihan antara foto udara dan LiDAR** bergantung pada kebutuhan proyek**. Jika tujuannya adalah dokumentasi visual atau pemetaan dengan biaya efisien, maka foto udara sudah cukup. Namun, jika proyek membutuhkan data topografi detail, terutama di area dengan vegetasi rapat atau medan kompleks, LiDAR adalah pilihan yang lebih tepat. Dengan memahami perbedaan ini, kita bisa menentukan teknologi mana yang sesuai dengan kebutuhan.

Sebagai penyedia jasa di bidang survei pemetaan, Geo Survey Persada Indonesia (GSPI) menawarkan solusi geospasial efisien dan akurat berbasis LiDAR dan foto udara. GSPI menggunakan Drone CHCNAV P330 Pro, DJI Matrice 300, dan JDI VT 290 sebagai wahana akuisisi datanya. Sementara sensor LiDAR yang digunakan yaitu Satlab-Apus MX dan CHCNAV Alpha-Air 450. Melalui teknologi terbaru dan tim yang berpengalaman, GSPI mampu menghadirkan data spasial presisi tinggi yang mendukung berbagai kebutuhan pemetaan.