Jangan Keliru! Ini Bedanya Foto Udara dan LiDAR
Dalam dunia survei dan pemetaan, teknologi terus berkembang untuk menjawab kebutuhan akan data spasial yang cepat, akurat, dan detail. Dua metode yang sering digunakan adalah foto udara dan LiDAR (Light Detection and Ranging). Keduanya sama-sama memanfaatkan wahana udara seperti drone atau pesawat, tetapi cara kerja dan hasil yang dihasilkan berbeda. Lalu, apa sebenarnya perbedaan keduanya, dan kapan sebaiknya kita memilih foto udara atau LiDAR?
-
Definisi dan Prinsip Kerja
LiDAR merupakan penginderaan jauh sensor aktif yang memanfaatkan pulsa laser untuk mengukur jarak ke permukaan bumi. Prinsip kerja LiDAR didasarkan pada konsep time of flight (waktu tempuh cahaya). Sensor LiDAR akan memancarkan pulsa laser ke permukaan bumi, kemudian dipantulkan dan diterima kembali oleh sensor. Dengan menghitung waktu tempuh pulsa kemudian mengalikan dengan kecepatan cahaya, sistem dapat menentukan jarak antara objek dengan sensor. Dari segi pencahayaan, LiDAR dapat bekerja baik dalam kondisi gelap maupun terang karena tidak dipengaruhi oleh cahaya matahari.
foto udara (Fotogrametri) merupakan metode penginderaan jauh sensor pasif yang menggunakan kamera beresolusi tinggi untuk mengambil gambar permukaan bumi dari udara. Gambar - gambar hasil pemotretan digabungkan menggunakan perangkat lunak pengolah foto udara untuk menghasilkan ortofoto (foto tegak). Dalam pengukurannya, cahaya matahari sangat memengaruhi hasil foto udara. Oleh karena itu, kondisi ideal cahaya perlu dipertimbangkan (tidak terlalu terik, tidak terlalu redup).
-
Karakteristik Data
LiDAR menghasilkan data berupa sekumpulan titik - titik 3D yang sangat padat yang sering dikenal dengan point cloud. LiDAR unggul dalam akurasi vertikal (Z) dan mampu menghasilkan model topografi yang akurat. Kerapatan titik yang tinggi memungkinkan representasi objek yang sangat detail, termasuk perbedaan ketinggian yang kecil. LiDAR memiliki keunggulan dalam menembus vegetasi/celah kanopi pohon sehingga kaya informasi tentang bentuk, ketinggian, dan tekstur objek permukaan bumi.
Survei fotogrametri menghasilkan data foto udara, yaitu data raster/grid (gambar 2D) yang memberikan gambaran visual permukaan bumi. Data foto udara memiliki akurasi lebih baik pada X dan Y (posisi).
-
Output (Hasil) Pengolahan
Point cloud LiDAR dapat diolah menjadi Digital Terrain Model (DTM), Digital Surface Model (DSM), kontur, hingga peta topografi. Foto udara menghasilkan citra visual dari permukaan bumi yang dapat diolah menjadi ortofoto, DSM, dan model 3D/Mesh sederhana.
-
Manfaat/Aplikasi Utama
LiDAR sangat bermanfaat di berbagai bidang, terutama kehutanan, arkeologi, pertambangan, hingga konstruksi. LiDAR mampu menghitung tinggi pohon, menemukan reruntuhan kuno di bawah kanopi, memantau kemajuan proyek, hingga mengukur volume galian dan timbunan. LiDAR juga dapat membantu menganalisis kesehatan tanaman.
Foto udara beresolusi tinggi menghasilkan citra visual yang detail sehingga penting untuk pemetaan lahan, perencanaan tata ruang, manajemen proyek konstruksi, serta analisis lingkungan.