Pelestarian Heritage oleh Geo Survey Persada melalui Survei LiDAR
Pelestarian heritage kini tidak lagi hanya mengandalkan dokumentasi manual atau pencatatan konvensional. Kawasan bersejarah mulai memanfaatkan teknologi modern yang mampu memetakan wilayah secara akurat, detail, dan terukur. Pendekatan berbasis data geospasial memungkinkan proses konservasi dilakukan dengan presisi tinggi tanpa merusak struktur asli situs.
Geo Survey Persada (GSPI) menghadirkan solusi survei berbasis LiDAR dan foto udara untuk mendukung dokumentasi serta pengelolaan kawasan bersejarah secara berkelanjutan.
Apa Itu LiDAR dan Foto Udara?
LiDAR (Light Detection and Ranging) adalah teknologi pemindaian berbasis laser yang bekerja dengan memancarkan pulsa cahaya ke permukaan bumi, kemudian merekam pantulan kembali ke sensor. Dari jutaan titik pantul (point cloud) yang dihasilkan, dapat dibentuk model tiga dimensi dengan tingkat akurasi sangat tinggi.
Keunggulan utama LiDAR dalam konteks heritage adalah kemampuannya menangkap detail topografi, bahkan pada area yang tertutup vegetasi. Teknologi ini mampu memisahkan permukaan tanah dari objek diatasnya, sehingga menghasilkan DEM (Digital Elevation Model), DSM (Digital Surface Model), dan peta kontur detail. Data ini sangat penting untuk memahami struktur lanskap asli, batas kawasan, hingga indikasi struktur arkeologis yang tidak terlihat secara kasatmata.
Selain LiDAR, foto udara resolusi tinggi menjadi komponen penting dalam pemetaan kawasan bersejarah. Dengan akuisisi menggunakan wahana udara (drone atau pesawat), GSPI menghasilkan ortofoto presisi yang merepresentasikan kondisi aktual situs. Foto udara berfungsi untuk mendokumentasikan tata ruang dan pola kawasan, mengidentifikasi struktur bangunan dan batas area, menyediakan arsip visual resolusi tinggi, mendukung analisis perubahan kawasan dari waktu ke waktu. Kombinasi LiDAR dan foto udara menghadirkan integrasi data elevasi dan visual yang komprehensif.
Pengalaman GSPI dalam Survei Heritage
Geo Survey Persada telah berkontribusi dalam pemetaan sejumlah kawasan bersejarah di Yogyakarta, antara lain Situs Sokoliman, Situs Cagar Budaya Kedaton Pleret, Kawasan Kotabaru dan Kotagede Yogyakarta, dan Kawasan Candi Ijo. Foto udara dan LiDAR menghasilkan data spasial detail yang mendukung proses dokumentasi serta pelestarian kawasan tersebut. Informasi elevasi membantu memahami morfologi lahan, sementara ortofoto resolusi tinggi memberikan gambaran aktual struktur dan konteks lanskap situs.
Data DEM, DTM, DSM, serta kontur menjadi dasar dalam analisis teknis untuk mendukung perencanaan konservasi dan pengelolaan kawasan berbasis pelestarian nilai budaya. Pemanfaatan teknologi geospasial dalam kawasan heritage memberikan sejumlah manfaat strategis, antara lain:
- Dokumentasi Digital Presisi Tinggi
Situs bersejarah terdokumentasi dalam bentuk data spasial tiga dimensi yang dapat disimpan sebagai arsip jangka panjang. - Analisis Lanskap dan Struktur
Informasi topografi membantu memahami hubungan antara struktur bangunan dan kondisi lahan sekitarnya. - Dasar Perencanaan Konservasi
Data elevasi dan kontur mendukung identifikasi area rawan erosi, genangan, atau potensi risiko lainnya. - Pengelolaan Berkelanjutan
Keputusan pengembangan kawasan dapat dilakukan tanpa mengabaikan nilai historis dan budaya.
Melalui LiDAR dan foto udara, Geo Survey Persada juga berperan aktif dalam menjaga dan merawat warisan budaya Indonesia. Teknologi menjadi jembatan antara pelestarian masa lalu dan perencanaan masa depan yang lebih terukur dan berkelanjutan.