Default Title

Tesso Nilo: Taman Nasional Tapi 85%-nya Sawit?

Tesso Nilo: Taman Nasional Tapi 85%-nya Sawit?

Tesso Nilo: Taman Nasional Tapi 85%-nya Sawit?

Di Provinsi Riau, terdapat bentang alam yang dikenal sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati terbesar di Sumatra, yaitu Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN). Kawasan ini adalah rumah bagi 360 jenis flora, 107 jenis burung, 50 jenis ikan, 18 jenis amfibi, 15 jenis reptil, 3 jenis primata, 23 jenis mamalia. Namun, populasi satwa dan kelestarian habitatnya terus menurun, bukan karena proses alami, tetapi karena aktivitas ilegal yang masuk semakin dalam ke kawasan hutan.

Bayangkan, Tesso Nilo dahulu membentang lebih dari 81.000 hektar. Namun, sekarang hanya sekitar 12.500 hektar yang benar-benar masih tersisa sebagai hutan utuh. Artinya, sekitar 85% kawasan hilang dalam kurun kurang dari dua dekade, berubah menjadi perkebunan sawit ilegal dan lahan terbuka.

Penyusutan hutan bukan sekadar hilangnya hamparan pepohonan. Ia berarti hilangnya ruang hidup, sumber pakan dan area berkembang biak satwa liar. Di antara barisan sawit itu, gajah, harimau, dan satwa lain terus berjuang untuk bertahan hidup. Akhirnya, satwa memasuki kebun, manusia merasa terancam, dan pada akhirnya kedua pihak sama-sama dirugikan.

Selamatkan Satwa dengan Drone Thermal

Selain upaya restorasi hutan dan penertiban perkebunan ilegal, drone thermal menjadi salah satu alat efektif dalam pelestarian satwa liar. Drone thermal merupakan perangkat UAV yang dilengkapi sensor inframerah untuk menangkap panas tubuh makhluk hidup. Teknologi ini menangkap energi panas tubuh satwa dan menampilkannya sebagai warna kontras di layar. engan cara ini, keberadaan satwa dapat dideteksi meskipun tertutup vegetasi, berada di balik kabut, asap, atau dalam kondisi minim cahaya seperti malam hari.

Dalam pemantauan satwa liar, teknologi ini memberikan keuntungan besar karena observasi dilakukan dari udara tanpa menimbulkan stres atau gangguan langsung pada hewan. Aktivitas yang biasanya sulit dipantau, seperti pergerakan kawanan gajah, area jelajah harimau, atau lokasi berkembang biak spesies sensitif, dapat direkam secara kontinu dan akurat. Proses monitoring pun menjadi lebih efisien dibandingkan patroli manual yang terbatas oleh jarak pandang, keterbatasan medan, dan risiko keselamatan petugas.

Selain untuk konservasi, drone thermal juga berperan penting dalam mitigasi konflik satwa-manusia. Ketika satwa mulai mendekati kebun atau permukiman, keberadaannya bisa terdeteksi lebih awal sehingga tim dapat melakukan penanganan cepat dan tepat tanpa membahayakan kedua pihak. Data pergerakan ini juga menjadi dasar ilmiah dalam menyusun strategi perlindungan habitat, restorasi jalur jelajah, hingga evaluasi kebijakan konservasi ke depan.

Manfaat Drone Thermal dalam Pemantauan Satwa, antara lain:

  • Observasi jarak jauh tanpa menimbulkan stres pada satwa
  • Melacak pola jelajah, pergerakan, dan migrasi
  • Mendeteksi satwa yang terluka atau terjebak
  • Mengawasi aktivitas ilegal di hutan secara real-time
  • Memantau populasi satwa langka dan terancam punah

Sebagai perusahaan penyedia layanan pemetaan dan survei berbasis teknologi, Geo Survey Persada Indonesia turut berkontribusi dalam mendukung upaya pelestarian dan pemantauan kawasan konservasi. GSPI menyediakan layanan survei foto udara dan LiDAR yang dapat membantu memetakan topografi, menghitung jumlah pohon, memetakan tutupan lahan, dan mengidentifikasi bukaan lahan.

Data yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk restorasi hutan serta penegakan hukum terhadap aktivitas ilegal. Dengan akurasi tinggi, cakupan luas, dan efisiensi waktu, teknologi survei udara dan LiDAR memungkinkan pemetaan real-time dan berkelanjutan untuk menyelamatkan kawasanTesso Nilo. Pelestarian tidak akan berhasil jika berjalan sendiri. Pemerintah, swasta, peneliti, dan masyarakat harus berjalan beriringan. Karena saat hutan hilang, satwa bukan satu-satunya yang kehilangan rumah, kita juga kehilangan masa depan.

Chatbot Layanan Survei Udara
Layanan Estimasi & Info
×